BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Penggembalaan merupakan bagian dari
Teologia Praktika. Beberapa ahli Teologia sudah berusaha berusaha untuk merumuskan
penggembalaan ittu Upamanya Thurneysen, dalam
bukunya yang terkenal tentang penggembalaan: “Pengembalaan merupakan suatu
penerapan khusus injil kepada anggota jemaat secara pribadi, yaitu berita injil
yang dalam khotbah gereja disampaikan kepada semua orang”. [1]Masah
remaja bagi sebagia orang adalah masah transisi yang paling sulit dalam hidup.
Masa yang penuh dengan pengalaman yang menegangkan, masa stres dan badai hidup.
Dokter Urie Bronfenbrenner, yang terkenal dengan penelitianya dalam
perkembangan anak di Universitas Cornell, berkata bahwa tahunnya dalam
perkembangan anak di universitas Cornell, berkata bahwa tahun – tahun yang
dilewati di SLTP adalah mungkin tahun-tahun paling genting bagi perkembangan
kesehatan mental seorang anak. Remaja pada usia 13 sampai 19 sudah mulai
berdikari, lepas dari orang tuanya dan pada saat yang sama mengalami krisis
identitasnya yang radikal. Banyak remaja dapat membangun identitas mereka pada
waktu ini, sementara yang lain menundanya sampai masa dewasa.
Masa remaja adalah masa transisi antara masa
kanak-kanak dan masa dewasa. Ada tiga kewajiban penting yang bersifat kejiwaan
yang perlu dilakukan oleh remaja belasan tahun. Dokter Keith Olson melukiskan
kewajiban-kewajiban tersebut dengan cara ini:
1.
mengembangkan rasa memiliki jati diri yang secara tetap memperlihatkan
siapa dia sebagai individu yang utuh dalam setiap peranan kehidupan. Ini
bersifat tersendiri dan
berbeda dari orang lain.
berbeda dari orang lain.
2. Memulai proses membangun hubungan yan ditandai oleh
keterikatan dan keakraban.
3. Mulai membuat keputusan-keputusan yang menuju
kepada latihan dan keikutsertaan dalam suatu pekerjaan tertentu.[2]
1.2 Rumusan Masalah
1. Krisis Remaja
- Sex Bebas
- Narkoba
- Bunuh diri
- Sex Bebas
- Narkoba
- Bunuh diri
1.3 Tujuan
1. Agar pendengar/pembaca
memahami bahaya depresi
2. Agar pendengar/pembaca tahu langkah yang harus di ambil untuk mengatasi orang yang depresi
2. Agar pendengar/pembaca tahu langkah yang harus di ambil untuk mengatasi orang yang depresi
BAB II
PEMBAHASAN
PEMBAHASAN
2.1
Krisis Remaja
Dalam bukunya
Principles of Preventive Psychiarty, ia menunjukkan bahwa setiap orang
terus-menerus diperhadapkan dengan situasi yang menentukan aktivitas
penanggulangan masalah. Kaum muda sering sekali mendapatkan sebuah masalah yang
tidak dapat ditanggulangi yang mengakibatkan depresi.
Apa itu depresi?
Depresi adalah tahap lebih lanjut dari stres. Apabila stres
masih bisa kamu hadapi sendiri dengan mengambil cuti atau liburan untuk
mengembalikan kewarasan diri, depresi adalah stres yang sudah tidak bisa kamu
hadapi sendiri. Rasa cemas yang selalu mendera diri, rasa tidak berdaya untuk
menghadapi situasi, hilangnya motivasi untuk melakukan apapun, serta tindakan
tanpa sadar menarik diri dari lingkungan sekitar adalah gejala-gejala depresi.
Hal ini akan diperparah pula dengan gangguan sulit tidur atau perubahan pola
makan. Depresi merupakan salah satu problema yang paling sering dijumpai dalam
kehidupan ini. Pada waktu-waktu tertentu
setiap orang dapat mengalami depresi, oleh sebab itu tidak mengherankan bila
sebagai konselor Kristen kita diperhadap-mukakan dengan orang-orang yang
mengalami persoalan ini.
Depresi adalah stres yang terlalu lama dibiarkan, dan sudah
mengganggu ritme hidup. Siapapun bisa mengalami depresi. Tak hanya orang di
televisi, tapi bisa saja keluargamu, teman-temanmu, atau bahkan kamu sendiri.
Depresi bukanlah hal yang jauh di sana, melainkan hal yang terjadi di sekitar
kita.[3]
ada beberapa hal yang diangkat penulis dalam krisis remaja yaitu:
2.1.1 Sex (Yudas 1:8)
Sekbebas dapat terjadi karena
pengaruh dari lingkungan luar dan salah pilihnya tempat lingkungan ia bergaul
dan tempat tinggal, saat ini di kota besar-besar sering terjadi razia di tempat
hiburan malam, seperti diskotik dan tempat berkumpul para remaja lainya dan yang paling sering tertangkap
adalah anak-anak remaja. Sekbebas sangat berdampak buruk bagi para remaja, dampak dari sekbebas adalah
hamil di luar pernikahan, yang dapat menyebabkan aborsi, dan dari kelakuan
prilaku mereka tersebut dapat membuat malu seluruh keluarga, diri sendiri, guru
serta nama baik sekolah. Padahal sekbebas bukanlah segalanya, di mana mereka
hanya mendapatkan kenikmatan sesaat, sedang kan mereka tidak memikirkan akibat
yang harus mereka tanggung seumur hidup mereka, dan rasa penyesalan lah yang
akan terus menghantui mereka sampai mereka tua nanti nya.
2.1.2
Kecanduan dan Penyalagunaa obat-obatan (1
Korintus 6:19)
Penyalagunaan obat-obatan merupakan
bencana manusia yang universal, tidak ada satu bangsa pun didunia ini yang
bebasa dari penyakit ini.[4] Narkoba
adalah akronim dari Narkotika dan obat-obat terlarang. Selain yang
disebut Narkoba ada juga yang disebut Psikotropika, dan Zat Adiktif
(NAPZA).[5] Yang
membahyakan Narkotika ini adalah zat-zat alamiah maupun buatan
(sintetik) yang berasal dari candu atau kokain. Tujuan awal zat-Zat ini
adalah untuk digunakan dalam bidang medis atau bidang kedokteran, tetapi
zat – zat ini sering kali disalahgunakan untuk keperluan lain. Misalnya,
mengejar kenikmatan, kepuasan tertentu. Psikotropika adalah
zat-zat dalam pelbagai bentuk pil ataupun bubukan halus, yang apabila
dimakan, minum dan dihirup akan sangat mempengaruhi kesadaran. Sasaran obat
tersebut adalah pusat-pusat tertentu di sistem syaraf pusat (otak dan sum-sum
tulang belakang) sehingga menimbulkan perubahan perilaku, perasaan, pikiran,
kesadaran. Setelah menggunkan obat ini, orang biasanya kehilangan kesadaran.
Zat Adiktif adalah zat-zat yang mengakibatkan ketergantungan
seperti zat-zat aseton, tiner cat, lem Aica Aibon. Zat-zat tersebut
sangat berbahaya karena bisa mematikan sel-sel otak. Zat adiktif juga termasuk
nikotin (tembakau) dan kafein (kopi). Alasan Mengunakan Narkoba. Para Penguna Narkoba
masing-masing memiliki alasan tersendiri dalam menggunakan Narkoba.
Alasan-alasan itu, misalnya, ingin menghilangkan beban hidup, ingin
menghilangkan rasa stress, menginginkan kenikmatan dan kepuasan, mau
coba-coba, masalah keluarga dan frustrasi, penghindaran diri terhadap
realita dan tanggung jawab kehidupan[6]
2.1.3 Bunuh Diri (Mazmur 31:16)
Bunuh diri bukanlah semata-mata
kasus yang hanya terjadi dalam novel ataupun film. Bunuh diri, adalah fenomena
yang benar-benar terjadi di dunia, dan tidak hanya satu atau dua. Yang lebih
tragisnya, banyak kasus bunuh diri yang berawal dari masalah yang bagi beberapa
orang terkesan sepele , seperti remaja putus cinta, anak sekolah takut dimarahi
orang tua karena nilai jelek, hingga mahasiswa yang memilih mengakhiri hidupnya
karena proposal skripsinya ditolak.
Psikodinamik
memandang tindakan bunuh diri yang dilakukan oleh seorang individu adalah
merupakan masalah depresi klasik, dalam hal ini, seseorang yang mempunyai
agresifitas yang tinggi dalam menyerang dirinya sendiri Teori Psikodinamik
menyatakan bahwa kehilangan kontrol ego individu, menjadi penyebab individu
tersebut melakukan bunuh diri. jika depresi adalah kemarahan seseorang yang
ditujukan kepada dirinya sendiri. Secara spesifik, ego yang terdapat pada
seseorang yang berada pada kondisi seperti hal tersebut, dihadirkan kepada
orang yang telah meninggalkannya. Kemarahan akan menjadi lebih besar jika orang
yang depresi berharap untuk menghapus kesan atau sosok dari orang yang
meninggalkannya. Penghapusan atau penghilangan kesan atau gambar tersebut
dilakukan kepada dirinya sendiri dengan jalan bunuh diri.
Hampir 90 % individu yang yang
melakukan bunuh diri dan usaha bunuh diri mempunyai kemungkinan mengalami
gangguan mental. Gangguan mental yang paling sering dialami oleh orang yang
melakukan bunuh diri adalah depresi Paling kurang, 15 % individu dengan
depresi, sukses melakukan bunuh diri Banyak teori yang menjelaskan tentang
depresi, dan semua sepakat keadaan depresi merupakan indikasi terjadinya bunuh
diri.
BAB III
PEMECAHAN MASALAH
PEMECAHAN MASALAH
3.1 Langkah-Langkah Yang Harus Dilakukan Konselor
3.1.1-
Membimbing
Pendeta terpanggil menjadi orang
yang memungkinkan terwujudnya keutuhan rohani di sepanjang siklus kehidupan.
Pendidikan teologi yang di perolehnya menolong memperlengkapinya dengan sumber
dan kecakapan yang perlu dipergunakan sebagai guru, pembimbing dan pelatih
kehidupan rohani dalam semua aspek pelayanannya.[7] Pastoral
kaum muda merupakan pengungkapan hakikat dan tujuan misi Gereja untuk
menghadirkan karya keselamatan Kristus dalam dunia kaum muda[8]. Kaum
muda yang terjebak dalam persoalan, harus di pastoral / di bimbing dan
dikembalikan untuk menjadi anak-anak sejati Allah. Depresi membuat orang
kehilangan semangat hidup. Oleh sebab itu peran gembala sangat penting dalam
mengatasi depresi. Seorang gembala harus mampu mengembalikan semangat hidup
kaum muda yang sedang mengalami depresi, bimbingan juga bertujuan untuk
mengurangi beratnya masalah,mengubah pelilaku negatif menjadi positif, mengubah
cara pandang terhadap masalah.[9] Oleh
sebab itu pengajaran tentang firman Tuhan sangat penting untuk mengembalikan
semangat hidup, Gembala juga bisa memberitahukan kepada pembina remaja/pemuda
untuk mengangkat tema-tema yang berhubungan dengan masalah-masalah diatas guna
menbangun rohani sianak, sehingga dengan terbangunnya rohani sianak maka iman
percaya kepada Yesus Kristus akan bertumbuh dalam diri kaum muda. [10]
- Referral : Karena kasus-kasus addiction sebenarnya
adalah tanggung jawab dari profesional lain, maka konselor dapat menolong dan
mempertemukan pasien dengan profesional yang tepat, seperti dokter, psikiater,
dsb.
- Family counseling : biasanya gejala penyalagunaan
obat-obatan adalah akibat dari sistem kehidupan keluarga yang kurang harmonis,
tidak ada kehangatan, orang tua yang otoriter, perfectionist, sering
bertengkar. Tanpa sistem dalam keluarga diperbaiki maka sedikit harapan untuk
menolong pasien.
Seorang gembala tidak boleh bekerja
sendiri ia harus Melibatkan Orang Tua Dalam Persoalan dalam melakukan pastoral
kepada kaum muda yang mengalami masalah, gembala harus membeitahukan orang tua
remaja yang mengalami masalah, supaya kaum muda tersebut lebih cepat bebas dari
masalah yang sedang dia alami. Selain menerima bimbingan pastoral dari seorang
gembala, kaum muda juga haru menerima peran penting dari keuarga, di mana
keluargalah yang berperan penting dalam proses sembuhnya atau bebasnya kaum
muda dari masalah, sebab kaluarga memiliki peran penting dalam proes tersebut.
Mengapa 3 masalah di atas muncul ? karena keluarga/orang tua kurang memberikan
waktu untuk memperhatikan perkembangan anak mereka sehingga anak lebih mudah
stress sehingga anak memilih kesenangan hidupnya. oleh sebab itu peran orang
tua sangat di butuhkan seperti memberi perhatian lebih atau khusus kepada kaum
muda yang mendapat masalah, jika masalah teralu berat seperti depresi, narkooba,
orang tua juga bisa membawa kaum muda berobat, seperti membawa ke psikiater
untuk mendapat penanganan yang lebih lanjut. Itu adalah peran dari orang tua
yang tidak bisa di berikan oleh seorang gembala. Jadi selain mendapat bimbingan
pastoral dari seorang gembala, kaum muda juga mendapat perhatian dari keluarga,
sehingga kaum muda tersebut bisa segerah pulih.[11]
3.1.2 Peranan
Keluarga/Orang tua Terhadap Sex
Faktor kelurga sangat menentukan dalam masalah pengajaran sex sehingga
prilaku sekbebas dapat di hindari, karena itu peran orang tua sangat penting
bagi pertumbuhan seorang remaja baik laki-laki maupun perempuan.
a). keluarga harus mengerti tentang permasalahan
seks, sebelum menjelaskan kepada anak-anak mereka
b). Seorang ayah mengarahkan anak laki-laki,
dan seorang ibu mengarahkan anak perempuan dalam menjelaskan seks.
c). Hindari hal-hal yang berbau porno pada
saat menjelaskan masalah seks, gunakan kata-kata yang sopan.
d). menyakinkan kepada anak bahwa teman-teman
mereka adalah teman yang baik.
E). tanamkan etika memelihara diri dari
perbuatan-perbuatan maksiat karena itu merupakan sesuatu yang paling berharga.
f). Membangun sikaf saling percaya antara
orang tua dan anak.
3.1.3 Gembala
Memperhatikan Perkembangan Remaja-Pemuda Dengan Teratur
Ketika semua solusi telah diberikan
oleh konselor kepada pihak yang bermasalah, maka tinggal menunggu apakah sianak
melakukan semua solusi yang diarahkan kepanya. Seorang konselor harus terus
memperhatikan perkembangan kaum muda yang telah dia konseling, inilah yang
membedakan Konseling Unik dan Konseling sekuler. Konseling sekuler akan
melakukan tugasnya ketika pasiennya datang tetapi konseling Unik memantau kehidupan
pasiennya bahkan terbeban dalam masalahnya, bahkan gembala harus
memangil/mendatangi kaum muda yang bermasalah untuk menanyakan perkembangannya
secara berkala[12].
BAB IV
PENUTUP
4.1 KESIMPULAN
Masa remaja adalah masa transisi
antara masa kanak-kanak dan masa dewasa. Di mana di masa ini adalah masa kritis/krisis bagi
seorang remaja, di mana seorang remaja sangat membutuhkan perhatian yang besar
dari keluarga dan motivasi yang besar. Di masa ini seorang remaja sangat muda
stres, hingga bisa membuat remaja menjadi depresi. Rasa
cemas yang selalu mendera diri, rasa tidak berdaya untuk menghadapi situasi,
hilangnya motivasi untuk melakukan apapun, serta tindakan tanpa sadar menarik
diri dari lingkungan sekitar adalah gejala-gejala depresi. Jika remaja mengalami depresi remaja bisa terjatuh
dalam sex bebas, narkoba, hal ini di lakukan untuk menyenangkan diri sendiri
atau mencari kepuasan diri, dan yang paling parah remaja bisa melakukan
tindakan bunuh diri jika remaja sudah tidak lagi mampu menahan beban atau masalah
yang sedang di alami, sehingga remaja mengambil tindakan akhir untuk bunuh
diri, karena ini di anggap solusi yang
paling tepat untuk mengakhiri suatu masalah yang menurutnya tidak dapat
di selesaikan.
Untuk
mengatasi mengatasi atau menangani remaja yang mengalami depresi ialah dengan
melakukan pastoral kepada remaja yang
mengalami depresi. Dimana gembala bisa memberikan nasehat atau arahan kepada
remaja, gembala juga bisa menjelaskan betapa berharganya mereka di mata Tuhan.
Sehingga remaja bisa memperoleh lagi semangat hidup, dan dalapat berjalan
kembali di jalan Tuhan. Selain gembala melakukan konseling kepada remaja yang
mengalami depresi, keluarga juga harus berperan aktif, di mana peran keluarga
sangatlah penting dalam hal ini. Dimana keluarga bisa memberi semangat kepada
remaja dan memberi perhatian lebih keada remaja, dan jika depresi yang di
alamai remaja sudah termasuk kategori berat, orang tua wajib membawa anak
tersebut berobat, sehingga anak tersebut bisa cepat pulih dari depresinya.
4.2
Saran
Sebelum menjadi seorang konseling ada yang harus
diperhatikan yaitu pastikan kalau kita sudah benar-benar mengenal Yesus Kristus.
Dengan begini seorang gembala akan dapat menyelesaikan masalah-masalah yang
dihadapi jemaat dengan menggunakan pengajaran yang tepat tentang firman Tuhan.
4.3
Daftar Pustaka
1. Storm
Boris. M. 2001. Apakah pengembalaan itu, Gunung Mulia : Jakarta
2. Norman H. Wright. 2006.
Konseling
Kristen, Gandum Mas
: Jakarta
3. Collins. Gary R. 1998. Konseling Kristen
Yang Efektif, Departemen Literatur SAAT Malang
: Malang
4. Susabda. Yakub B.
2000. Pastoral
Konseling, Gandum Mas
: Malang
5. Saptowidodo
. Rm. Adi. 2009. Pastoral Kaum Muda, Widia sasana : Malang
6. Yeo Anthony. 2007.Konseling Suatu Pendekatan
Pemecahan-Masalah, Gunung Mulia : Jakarta
7. David. Tom.A. 2000. Psikiatri, Kedokteran
: Jakarta
8. Clibebell
Howard. 2002. Tipe-tipe dasar pendampingan
dan konseling pastoral, Duta wacana : Yogyakarta