Senin, 21 November 2016

Krisis Remaja



 

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Penggembalaan merupakan bagian dari Teologia Praktika. Beberapa ahli Teologia  sudah berusaha berusaha untuk merumuskan penggembalaan ittu Upamanya Thurneysen, dalam bukunya yang terkenal tentang penggembalaan: “Pengembalaan merupakan suatu penerapan khusus injil kepada anggota jemaat secara pribadi, yaitu berita injil yang dalam khotbah gereja disampaikan kepada semua orang”. [1]Masah remaja bagi sebagia orang adalah masah transisi yang paling sulit dalam hidup. Masa yang penuh dengan pengalaman yang menegangkan, masa stres dan badai hidup. Dokter Urie Bronfenbrenner, yang terkenal dengan penelitianya dalam perkembangan anak di Universitas Cornell, berkata bahwa tahunnya dalam perkembangan anak di universitas Cornell, berkata bahwa tahun – tahun yang dilewati di SLTP adalah mungkin tahun-tahun paling genting bagi perkembangan kesehatan mental seorang anak. Remaja pada usia 13 sampai 19 sudah mulai berdikari, lepas dari orang tuanya dan pada saat yang sama mengalami krisis identitasnya yang radikal. Banyak remaja dapat membangun identitas mereka pada waktu ini, sementara yang lain menundanya sampai masa dewasa.
Masa remaja adalah masa transisi antara masa kanak-kanak dan masa dewasa. Ada tiga kewajiban penting yang bersifat kejiwaan yang perlu dilakukan oleh remaja belasan tahun. Dokter Keith Olson melukiskan kewajiban-kewajiban tersebut dengan cara ini:
1.  mengembangkan rasa memiliki jati diri yang secara tetap memperlihatkan siapa dia sebagai individu yang utuh dalam setiap peranan kehidupan. Ini bersifat tersendiri dan
berbeda dari orang lain.
2. Memulai proses membangun hubungan yan ditandai oleh keterikatan dan keakraban.
3. Mulai membuat keputusan-keputusan yang menuju kepada latihan dan keikutsertaan dalam suatu pekerjaan tertentu.[2]
1.2 Rumusan Masalah
1. Krisis Remaja
- Sex Bebas
- Narkoba
- Bunuh diri
1.3 Tujuan
1. Agar pendengar/pembaca memahami bahaya depresi
2. Agar pendengar/pembaca tahu langkah yang harus di ambil untuk mengatasi orang yang depresi
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Krisis Remaja
Dalam bukunya Principles of Preventive Psychiarty, ia menunjukkan bahwa setiap orang terus-menerus diperhadapkan dengan situasi yang menentukan aktivitas penanggulangan masalah. Kaum muda sering sekali mendapatkan sebuah masalah yang tidak dapat ditanggulangi yang mengakibatkan depresi.
Apa itu depresi?
Depresi adalah tahap lebih lanjut dari stres. Apabila stres masih bisa kamu hadapi sendiri dengan mengambil cuti atau liburan untuk mengembalikan kewarasan diri, depresi adalah stres yang sudah tidak bisa kamu hadapi sendiri. Rasa cemas yang selalu mendera diri, rasa tidak berdaya untuk menghadapi situasi, hilangnya motivasi untuk melakukan apapun, serta tindakan tanpa sadar menarik diri dari lingkungan sekitar adalah gejala-gejala depresi. Hal ini akan diperparah pula dengan gangguan sulit tidur atau perubahan pola makan. Depresi merupakan salah satu problema yang paling sering dijumpai dalam kehidupan ini. Pada waktu-waktu  tertentu setiap orang dapat mengalami depresi, oleh sebab itu tidak mengherankan bila sebagai konselor Kristen kita diperhadap-mukakan dengan orang-orang yang mengalami persoalan ini.
Depresi adalah stres yang terlalu lama dibiarkan, dan sudah mengganggu ritme hidup. Siapapun bisa mengalami depresi. Tak hanya orang di televisi, tapi bisa saja keluargamu, teman-temanmu, atau bahkan kamu sendiri. Depresi bukanlah hal yang jauh di sana, melainkan hal yang terjadi di sekitar kita.[3] ada beberapa hal yang diangkat penulis dalam krisis remaja yaitu:
2.1.1  Sex  (Yudas 1:8)
Sekbebas dapat terjadi karena pengaruh dari lingkungan luar dan salah pilihnya tempat lingkungan ia bergaul dan tempat tinggal, saat ini di kota besar-besar sering terjadi razia di tempat hiburan malam, seperti diskotik dan tempat berkumpul para remaja  lainya dan yang paling sering tertangkap adalah anak-anak remaja. Sekbebas sangat berdampak buruk  bagi para remaja, dampak dari sekbebas adalah hamil di luar pernikahan, yang dapat menyebabkan aborsi, dan dari kelakuan prilaku mereka tersebut dapat membuat malu seluruh keluarga, diri sendiri, guru serta nama baik sekolah. Padahal sekbebas bukanlah segalanya, di mana mereka hanya mendapatkan kenikmatan sesaat, sedang kan mereka tidak memikirkan akibat yang harus mereka tanggung seumur hidup mereka, dan rasa penyesalan lah yang akan terus menghantui mereka sampai mereka tua nanti nya.
2.1.2  Kecanduan dan Penyalagunaa obat-obatan (1 Korintus 6:19)
Penyalagunaan obat-obatan merupakan bencana manusia yang universal, tidak ada satu bangsa pun didunia ini yang bebasa dari penyakit ini.[4] Narkoba adalah akronim dari  Narkotika dan obat-obat terlarang. Selain yang disebut Narkoba ada juga yang disebut  Psikotropika, dan Zat Adiktif (NAPZA).[5] Yang membahyakan Narkotika ini adalah zat-zat alamiah maupun buatan (sintetik) yang berasal dari candu atau kokain. Tujuan  awal zat-Zat ini adalah untuk digunakan dalam bidang medis atau  bidang kedokteran, tetapi zat – zat ini sering kali disalahgunakan untuk keperluan lain. Misalnya, mengejar kenikmatan, kepuasan tertentu. Psikotropika adalah zat-zat dalam pelbagai bentuk pil ataupun bubukan halus, yang apabila dimakan, minum dan dihirup akan sangat mempengaruhi kesadaran. Sasaran obat tersebut adalah pusat-pusat tertentu di sistem syaraf pusat (otak dan sum-sum tulang belakang) sehingga menimbulkan perubahan perilaku, perasaan, pikiran, kesadaran. Setelah menggunkan obat ini, orang biasanya kehilangan kesadaran. Zat Adiktif adalah zat-zat yang mengakibatkan ketergantungan seperti zat-zat aseton, tiner cat, lem Aica Aibon. Zat-zat tersebut sangat berbahaya karena bisa mematikan sel-sel otak. Zat adiktif juga termasuk nikotin (tembakau) dan kafein (kopi). Alasan Mengunakan Narkoba. Para Penguna Narkoba masing-masing memiliki alasan tersendiri dalam menggunakan Narkoba. Alasan-alasan itu, misalnya, ingin menghilangkan beban hidup, ingin menghilangkan rasa stress, menginginkan kenikmatan dan kepuasan,  mau coba-coba, masalah keluarga  dan frustrasi, penghindaran diri terhadap realita dan tanggung jawab kehidupan[6]
2.1.3  Bunuh Diri (Mazmur 31:16)
Bunuh diri bukanlah semata-mata kasus yang hanya terjadi dalam novel ataupun film. Bunuh diri, adalah fenomena yang benar-benar terjadi di dunia, dan tidak hanya satu atau dua. Yang lebih tragisnya, banyak kasus bunuh diri yang berawal dari masalah yang bagi beberapa orang terkesan sepele , seperti remaja putus cinta, anak sekolah takut dimarahi orang tua karena nilai jelek, hingga mahasiswa yang memilih mengakhiri hidupnya karena proposal skripsinya ditolak.
Psikodinamik memandang tindakan bunuh diri yang dilakukan oleh seorang individu adalah merupakan masalah depresi klasik, dalam hal ini, seseorang yang mempunyai agresifitas yang tinggi dalam menyerang dirinya sendiri Teori Psikodinamik menyatakan bahwa kehilangan kontrol ego individu, menjadi penyebab individu tersebut melakukan bunuh diri. jika depresi adalah kemarahan seseorang yang ditujukan kepada dirinya sendiri. Secara spesifik, ego yang terdapat pada seseorang yang berada pada kondisi seperti hal tersebut, dihadirkan kepada orang yang telah meninggalkannya. Kemarahan akan menjadi lebih besar jika orang yang depresi berharap untuk menghapus kesan atau sosok dari orang yang meninggalkannya. Penghapusan atau penghilangan kesan atau gambar tersebut dilakukan kepada dirinya sendiri dengan jalan bunuh diri.
Hampir 90 % individu yang yang melakukan bunuh diri dan usaha bunuh diri mempunyai kemungkinan mengalami gangguan mental. Gangguan mental yang paling sering dialami oleh orang yang melakukan bunuh diri adalah depresi Paling kurang, 15 % individu dengan depresi, sukses melakukan bunuh diri Banyak teori yang menjelaskan tentang depresi, dan semua sepakat keadaan depresi merupakan indikasi terjadinya bunuh diri.


BAB III
PEMECAHAN MASALAH
3.1 Langkah-Langkah Yang Harus Dilakukan Konselor
3.1.1- Membimbing
Pendeta terpanggil menjadi orang yang memungkinkan terwujudnya keutuhan rohani di sepanjang siklus kehidupan. Pendidikan teologi yang di perolehnya menolong memperlengkapinya dengan sumber dan kecakapan yang perlu dipergunakan sebagai guru, pembimbing dan pelatih kehidupan rohani dalam semua aspek pelayanannya.[7] Pastoral kaum muda merupakan pengungkapan hakikat dan tujuan misi Gereja untuk menghadirkan karya keselamatan Kristus dalam dunia kaum muda[8]. Kaum muda yang terjebak dalam persoalan, harus di pastoral / di bimbing dan dikembalikan untuk menjadi anak-anak sejati Allah. Depresi membuat orang kehilangan semangat hidup. Oleh sebab itu peran gembala sangat penting dalam mengatasi depresi. Seorang gembala harus mampu mengembalikan semangat hidup kaum muda yang sedang mengalami depresi, bimbingan juga bertujuan untuk mengurangi beratnya masalah,mengubah pelilaku negatif menjadi positif, mengubah cara pandang terhadap masalah.[9] Oleh sebab itu pengajaran tentang firman Tuhan sangat penting untuk mengembalikan semangat hidup, Gembala juga bisa memberitahukan kepada pembina remaja/pemuda untuk mengangkat tema-tema yang berhubungan dengan masalah-masalah diatas guna menbangun rohani sianak, sehingga dengan terbangunnya rohani sianak maka iman percaya kepada Yesus Kristus akan bertumbuh dalam diri kaum muda. [10]
- Referral : Karena kasus-kasus addiction sebenarnya adalah tanggung jawab dari profesional lain, maka konselor dapat menolong dan mempertemukan pasien dengan profesional yang tepat, seperti dokter, psikiater, dsb.
- Family counseling : biasanya gejala penyalagunaan obat-obatan adalah akibat dari sistem kehidupan keluarga yang kurang harmonis, tidak ada kehangatan, orang tua yang otoriter, perfectionist, sering bertengkar. Tanpa sistem dalam keluarga diperbaiki maka sedikit harapan untuk menolong pasien.
Seorang gembala tidak boleh bekerja sendiri ia harus Melibatkan Orang Tua Dalam Persoalan dalam melakukan pastoral kepada kaum muda yang mengalami masalah, gembala harus membeitahukan orang tua remaja yang mengalami masalah, supaya kaum muda tersebut lebih cepat bebas dari masalah yang sedang dia alami. Selain menerima bimbingan pastoral dari seorang gembala, kaum muda juga haru menerima peran penting dari keuarga, di mana keluargalah yang berperan penting dalam proses sembuhnya atau bebasnya kaum muda dari masalah, sebab kaluarga memiliki peran penting dalam proes tersebut. Mengapa 3 masalah di atas muncul ? karena keluarga/orang tua kurang memberikan waktu untuk memperhatikan perkembangan anak mereka sehingga anak lebih mudah stress sehingga anak memilih kesenangan hidupnya. oleh sebab itu peran orang tua sangat di butuhkan seperti memberi perhatian lebih atau khusus kepada kaum muda yang mendapat masalah, jika masalah teralu berat seperti depresi, narkooba, orang tua juga bisa membawa kaum muda berobat, seperti membawa ke psikiater untuk mendapat penanganan yang lebih lanjut. Itu adalah peran dari orang tua yang tidak bisa di berikan oleh seorang gembala. Jadi selain mendapat bimbingan pastoral dari seorang gembala, kaum muda juga mendapat perhatian dari keluarga, sehingga kaum muda tersebut bisa segerah pulih.[11]
3.1.2  Peranan Keluarga/Orang tua Terhadap Sex
             Faktor kelurga sangat menentukan dalam masalah pengajaran sex sehingga prilaku sekbebas dapat di hindari, karena itu peran orang tua sangat penting bagi pertumbuhan seorang remaja baik laki-laki maupun perempuan.
a).       keluarga harus mengerti tentang permasalahan seks, sebelum menjelaskan kepada anak-anak mereka
b).        Seorang ayah mengarahkan anak laki-laki, dan seorang ibu mengarahkan anak perempuan dalam menjelaskan seks.
c).        Hindari hal-hal yang berbau porno pada saat menjelaskan masalah seks, gunakan kata-kata yang sopan.
d).        menyakinkan kepada anak bahwa teman-teman mereka adalah teman yang baik.
E).       tanamkan etika memelihara diri dari perbuatan-perbuatan maksiat karena itu merupakan sesuatu yang paling berharga.
f).        Membangun sikaf saling percaya antara orang tua dan anak.
3.1.3  Gembala Memperhatikan Perkembangan Remaja-Pemuda Dengan Teratur
Ketika semua solusi telah diberikan oleh konselor kepada pihak yang bermasalah, maka tinggal menunggu apakah sianak melakukan semua solusi yang diarahkan kepanya. Seorang konselor harus terus memperhatikan perkembangan kaum muda yang telah dia konseling, inilah yang membedakan Konseling Unik dan Konseling sekuler. Konseling sekuler akan melakukan tugasnya ketika pasiennya datang tetapi konseling Unik memantau kehidupan pasiennya bahkan terbeban dalam masalahnya, bahkan gembala harus memangil/mendatangi kaum muda yang bermasalah untuk menanyakan perkembangannya secara berkala[12].
BAB IV
PENUTUP
4.1 KESIMPULAN
Masa remaja adalah masa transisi antara masa kanak-kanak dan masa dewasa. Di mana di masa ini adalah masa kritis/krisis bagi seorang remaja, di mana seorang remaja sangat membutuhkan perhatian yang besar dari keluarga dan motivasi yang besar. Di masa ini seorang remaja sangat muda stres, hingga bisa membuat remaja menjadi depresi. Rasa cemas yang selalu mendera diri, rasa tidak berdaya untuk menghadapi situasi, hilangnya motivasi untuk melakukan apapun, serta tindakan tanpa sadar menarik diri dari lingkungan sekitar adalah gejala-gejala depresi. Jika remaja mengalami depresi remaja bisa terjatuh dalam sex bebas, narkoba, hal ini di lakukan untuk menyenangkan diri sendiri atau mencari kepuasan diri, dan yang paling parah remaja bisa melakukan tindakan bunuh diri jika remaja sudah tidak lagi mampu menahan beban atau masalah yang sedang di alami, sehingga remaja mengambil tindakan akhir untuk bunuh diri, karena ini di anggap solusi yang  paling tepat untuk mengakhiri suatu masalah yang menurutnya tidak dapat di selesaikan.
Untuk mengatasi mengatasi atau menangani remaja yang mengalami depresi ialah dengan melakukan  pastoral kepada remaja yang mengalami depresi. Dimana gembala bisa memberikan nasehat atau arahan kepada remaja, gembala juga bisa menjelaskan betapa berharganya mereka di mata Tuhan. Sehingga remaja bisa memperoleh lagi semangat hidup, dan dalapat berjalan kembali di jalan Tuhan. Selain gembala melakukan konseling kepada remaja yang mengalami depresi, keluarga juga harus berperan aktif, di mana peran keluarga sangatlah penting dalam hal ini. Dimana keluarga bisa memberi semangat kepada remaja dan memberi perhatian lebih keada remaja, dan jika depresi yang di alamai remaja sudah termasuk kategori berat, orang tua wajib membawa anak tersebut berobat, sehingga anak tersebut bisa cepat pulih dari depresinya.
4.2 Saran
Sebelum menjadi seorang konseling ada yang harus diperhatikan yaitu pastikan kalau kita sudah benar-benar mengenal Yesus Kristus. Dengan begini seorang gembala akan dapat menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapi jemaat dengan menggunakan pengajaran yang tepat tentang firman Tuhan.














4.3 Daftar Pustaka
1.      Storm Boris. M. 2001. Apakah pengembalaan itu, Gunung Mulia : Jakarta
2.      Norman H. Wright. 2006. Konseling Kristen, Gandum Mas : Jakarta
3.      Collins. Gary R. 1998. Konseling Kristen Yang Efektif, Departemen Literatur SAAT Malang : Malang
4.      Susabda. Yakub B. 2000. Pastoral Konseling, Gandum Mas : Malang
5.      Saptowidodo . Rm. Adi. 2009. Pastoral Kaum Muda, Widia sasana : Malang
6.      Yeo Anthony. 2007.Konseling Suatu Pendekatan Pemecahan-Masalah, Gunung Mulia :  Jakarta
7.      David. Tom.A. 2000. Psikiatri,  Kedokteran : Jakarta
8.      Clibebell Howard. 2002. Tipe-tipe dasar pendampingan dan konseling pastoral, Duta wacana : Yogyakarta



[1] Dr. M. Bons-Storm. Apakah Penggembalaan Itu. (Jakarta: BPK Gunung Mulia 2001) hlm 1
[2] H.Norman Wright.Konseling Kristen. (Jakarta: Gandum Mas, 2006) hlm 226-227
[3] Dr. Gary R . Collins. Konseling Kristen Yang Efektif. (Malang, Departemen Literatur SAAT 1998) hlm 138
[4] Yakub B. Susabda. Pastoral Konseling.(Malang : Gandum Mas 2000). Hlm 160
[7] Howard Clibebell. Tipe-tipe dasar pendampingan dan konseling. (Yogyakarta. Duta Wacana 2002
[8] Rm. Adi  Saptowidodo.Pastoral Kaum Muda (Malang. Widia Sasana 2009)  hlm. 3.
[9] Anthony Yeo. Konseling Suatu Pendekatan Pemecahan- Masalah. (Jakarta. BPK Gunung Mulia 2007) hlm 192-194
[10] Tom David.A. Psikiatri ( Jakarta. Kedokteran 2000) hlm 52
[11] Yakub B. Susabda. Pastoral Konseling.(Malang : Gandum Mas 2000). Hlm 173
[12] Ibid. Hlm 160